Template by:
Free Blog Templates

Jumat, 17 Oktober 2008

Suhu Ekstrem Implikasi dari Perubahan Iklim

JAKARTA, RABU — Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Mezak Arnold Ratag, Selasa (23/9), mengatakan, suhu meningkat pada waktu sesaat seperti sekarang ini adalah salah satu variabilitas iklim.

Terjadinya suhu ekstrem, seperti di wilayah Jatiwangi, Jawa Barat, hingga 38º Celsius, itu merupakan salah satu implikasi perubahan iklim. Di Jawa Timur, dua hari terakhir Stasiun Meteorologi Klas I Juanda mencatat suhu rata-rata Surabaya-Sidoarjo dari 33º-34º Celsius menjadi 36º Celsius.

"Kejadian-kejadian ekstrem lainnya yaitu siklon tropis yang makin banyak dan makin intensif. Tetapi, implikasi perubahan iklim itu dinyatakan atas perubahan suhu rata-rata selama 30 tahun," kata Mezak.

Berdasarkan laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), perubahan iklim ditengarai dengan kenaikan suhu rata-rata antara tahun 1910 dan 1940 sebesar 0,35º Celsius. Kenaikan suhu rata-rata itu makin meningkat pada 1970 hingga sekarang, yakni 0,55º Celsius.

"Suhu tinggi menimbulkan penguapan dan mempercepat pembentukan awan hujan di beberapa daerah," kata Kepala Subbidang Informasi Meteorologi Publik BMKG Kukuh Ribudianto.

Saat ini, sudah tampak potensi terjadinya hujan di beberapa daerah. Hujan ringan kemarin turun di wilayah Bogor, sebelah utara dan selatan Bandung, dan Cianjur, Jawa Barat.

Awan hujan yang terpantau melalui citra satelit, menurut Kukuh, saat ini berada di wilayah Sumatera Barat atau Padang ke utara, Palembang, Pontianak, Maluku bagian tengah, Papua, dan Jawa bagian barat.

Gelombang laut

Kukuh menyatakan, masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan ini masih menimbulkan gangguan-gangguan iklim, antara lain, berupa tingginya gelombang.

Di Samudra Hindia sebelah barat Bengkulu hingga Lampung, ketinggian gelombang diperkirakan mencapai 3 meter, juga di Laut China Selatan.

Di selatan Pulau Jawa bagian barat hingga tengah dan di selatan Merauke tinggi gelombang bisa mencapai 3 meter, sedangkan di utara Pulau Bali atau di Laut Flores mencapai 2 meter.

Tetap kering

Ketua Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (Perhimpi) Rizaldi Boer dari Institut Pertanian Bogor (IPB) mengatakan, meski potensi hujan muncul di berbagai daerah di Indonesia, wilayah Nusa Tenggara tetap kering.

Peluang hujan di sana muncul menjelang akhir tahun dan berlangsung hanya 3-4 bulan. Oleh karena itu, ketika musim hujan perlu panen air. "Yaitu, dengan membuat embung-embung skala besar," ujarnya. (NAW)

0 komentar:

Poskan Komentar